Pramoedya Ananta Toer tiga kali masuk tahanan oleh tiga kekuasaan yang berlainan. Semua pemenjaraan itu tidak melalui proses pengadilan yang wajar. Pram juga mengalami ketidakadilan di masa Orde Baru: buku-bukunya dilarang beredar dan ia dilarang bicara. Dari sini ia semakin meyakini untuk berpihak kepada “yang kalah”, kepada rakyat jelata, dan konsekuensinya bergabung dengan barisan progre…