Beberapa persoalan akut yang diidap oleh kesusastraan Indonesia dikupas oleh Budi Darma dengan bahasa yang asyik, sesekali menohok. Terutama persoalan melodrama dalam novel-novel Indonesia dan posisi seorang kritikus sastra yang dibahas tuntas dalam esai Nirdawat. Kepadatan esai-esainya terasa bukan hanya menelanjangi karya dan tokoh sastra yang dibahas, tetapi juga mencekam, mengungkung, sekal…
SAJAKSEL: Kumpulan Sajak Urban, Korporat, dan Start-Up juga kali pertama penulis mengilustrasi sendiri bukunya. Buku ini juga memiliki ‘saudara kembar’ yang terbit bersamaan, 50 to 20: Pesan dari Paruh Perjalanan–refleksi dan pesan penulis untuk dirinya yang masih muda.